KULIAH PROGRAM PBIPA KNB 2010 UNS

KULIAH PROGRAM PBIPA KNB PROGRAM PASCASARJANA (2010) UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

Duduk pada deretan depan dari arah kiri ke kanan adalah: 1. Proscovia Aloyo (Uganda); 2. Naliana Madeng (Thailand); dan duduk pada deretan belakang: 3. Vu Trung Hieu (Vietnam); Van Kim Hoang HA (Vietnam), serta Pak Ista (Dosen UNS).

Mhs ASING KNB PP UNS
Mhs ASING KNB PP UNS

Dan pada gambar kedua, duduk paling kiri belakang adalah Ramaramanana Dina (Madagaskar).

Continue reading »

SASTRA KEAGAMAAN: SASTRA SUFI DAN SASTRA MISTIK

Drs. Imam Sutardjo, M.Hum (Ketua Jurusan S. Daerah) sedang nembang Jawa yg berkaitan dg sastra suluk, Siti Muslifah, S.S.,M.Hum. (tengah) dosen S. Daerah, dan paling kanan Drs. Istadiyantha, M.S. (pemrakarsa kuliah gabungan).

KULIAH GABUNGAN JURUSAN SASTRA DAERAH DAN SASTRA INDONESIA FSSR UNS Surakarta, DI RUANG SEMINAR FSSR UNS GEDUNG III lantai 2 (Oleh: Istadiyantha)

SASTRA KEAGAMAAN

nSastra keagamaan dapat saja menggambarkan tentang pengalaman batin seseorang dalam bidang keagamaan, yang bertujuan untuk mengekspresikan pengalaman hidupnya itu agar bermanfaat bagi orang lain.

nKarya sastra keagamaan yang diungkapkan secara mendalam ini oleh Mangunwijaya dikatakan sebagai “karya yang diungkapkan dengan bahasa hati”, jadi bukan karya sastra yang sekedar bermuatan “religius”, tetapi sudah berada pada tataran “religiositas” (Mangunwijaya, Sastra dan Religiositas, 1982: 11)

Karya sastra keagamaan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis agama, sehingga ada karya sastra Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya. Dan karya sastra dapat pula dikelompokkan berdasarkan kedalaman isinya atau bagaimana sang penulis karya mengungkapkan perasaannya sehingga menimbulkan kesan telah melakukan penghayatan batin untuk berdekatan dengan Tuhan. Karya-karya sastra yang mengungkapkan peristiwa keagamaan secara biasa/ datar disebut sebagai mengandung unsur religios dan yang mengandung penghayatan batin yang mendalam atas kedekatan, kerinduannya, dan kecintaannya dengan Tuhan disebut mengandung unsur religiositas. Karya sastra yang mengandung unsur religiositas ini misalnya karya sastra mistik (bersifat umum untuk semua agama), sastra sufi (khusus Islam), sastra sufistik, dan sastra profetik. Khusus untuk karya sastra profetik masih perlu dilihat terlebih dahulu bagaimana isi dan ekspresi penulis dalam karya tsb. yang dalam situasi tertentu dapat digolongkan menjadi karya sastra keagamaan dan dalam hal lain (bila ada penghayatan batin yang mendalam) dapat juga digolongkan mengandung unsur religiositas.

nPUISI YANG MENUNTUN KE PENGHAYATAN KEBESARAN TUHAN

“Tentang Hewan Kecil dan Hewan Berpikir” karya Motinggo Busye:

Perhatikan betapa anak buah Solaiman/ Memulangkan gula gula curian perhatikan/ perhatikan / memulangkan ke tempat semula. perhatikan / Perhatikan perhatikan perhatikan kesantunan / Kearifan / hewan hewan kecil / perhatikan / dan kamu hewan besar, Hewan Yang Berpikir / tak juga sudi memperhatikan sajakku / Sanu, / Ini Sanu yang bicara / Sanu itu aku sanu itu: “Hewan Berpikir” (Horison nomor 4 tahun XIX, April 1985 dalam Linus Suryadi A.G. (ed.): 302-303). Pada puisi di atas, sang penyair mengajak kepada pembaca untuk memperhatikan kekuasaan Tuhan, salah satunya adalah tentang kehidupan semut yang tahu kesantunan dankearifan.

1)Karya sastra Islam: novel “Ayat-ayat Cinta” oleh Habiburrahman El Shirazy (2006).

Kisah cinta yang bukan hanya sekedar kisah cinta yang biasa. Ia kisah tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Ia berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusias kecuali satu: menikah. Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan makhluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya, dan saudara perempuannya. Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Alquran, dan sekaligusmenganggumi Fahri. Seterusnya kekaguman itu berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja. Lalu ada Nurul, anak seorang Kiai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak. Setelah itu ada Noura, ia termasuk tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya. Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di Metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya. Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua peristiwa pernikahan dalam jalur Islam yang sangat dia yakini?Novel di atas dapat disebut sebagai karya sastra Islam, karena isinya dominan membicarakan tentang seluk-beluk perilaku dan keyakinan Islam. Cara tokoh-tokohnya bergaul selalu dikaitkan dengan adat-istiadat dan norma-norma ajaran Islam

2)Karya sastra Kristen: “Khotbah” oleh Rendra

Sastra keagamaan (Kristen)

KHUTBAH: W.S. RENDRA

Fantastis, / Di satu Minggu siang yang panas / Di gereja yang penuh orangnya / Seorang padri muda berdiri di mimbar / Wajahnya molek dan suci / Matanya manis seperti mata kelinci / Dan ia mengangkat kedua tangannya / Yang bersih halus bagai leli / Lalu berkata: / “Sekarang kita bubaran / Hari ini khotbah tak ada” / Orang-orang tidak beranjak / Mereka tetap duduk rapat berdesak / Ada juga banyak yang berdiri / Mereka kaku. Tak mau bergerak / Mata mereka menatap bertanya-tanya / Mulut mereka menganga / Berhenti berdoa / Tapi ingin benar mendengar / Kemudian dengan serentak mereka mengesah / dan berbaring dengan suara aneh dari mulut mereka / tersebarlah bau keras / yang perlu dicegah dengan segera / Lihatlah aku masih muda / Biarkan aku menjaga sukmaku / Silakan bubar / Izinkan aku memuliakan kesucian / Aku akan kembali ke biara / Merenungkan keindahan Ilahi” /(Linus Suryadi A.G., 1987: 185).

SASTRA PROFETIK

nKARYA SASTRA YANG MENGUNGKAPKAN TENTANG AJARAN DAN KEHIDUPAN NABI-NABI

nSASTRA PROFETIK: BERSIFAT UMUM, ASALKAN BERNUANSA AJARAN DAN KEHIDUPAN KENABIAN

nSASTRA PROFETIK LEBIH KHUSUS DARIPADA SASTRA KEAGAMAAN

SASTRA SUFISTIK

nSASTRA SUFISTIK: KARYA SASTRA YANG MEMBAHAS TENTANG AKTIVITAS KEHIDUPAN TASAUF (PENULISNYA TIDAK HARUS ORANG SUFI).

nSASTRA SUFISTIK BERISI TENTANG HAL IHWAL KEHIDUPAN TASAUF, JADI BERNUANSA KEISLAMAN

SASTRA SUFI DAN SASTRA MISTIK

nSASTRA SUFI: KARYA SASTRA YANG DITULIS OLEH ORANG SUFI DAN ATAU MENGENAI ORANG-ORANG YANG MELAKUKAN KEGIATAN TASAUF (SUFI=PELAKU TASAUF; SASTRA SUFI HARUS OLEH DAN TENTANG KEHIDUPAN SUFI).

nSASTRA MISTIK: KARYA SASTRA TENTANG HAL-IHWAL KEAGAMAAN YANG AMAT MENDALAM ISINYA KE PERIHAL BATIN, GAIB, DAN HAKIKAT KEHIDUPAN

click di sini: TEORI SASTRA 1

TEORI SASTRA 2

BACALAH JUGA:

Sinopsis
Apakah Islam dan sastra compatibel (sesuai)? Pertanyaan ini muncul seolah – olah Islam dan sastra tidak ada relasinya. Lihat saja , misalnya, reaksi umat Islam terhadap cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipanjikusmin yang diterbitkan majalah Sastra pada tahun 1968, atau novelnya Nazib Mahfud, “Aulad Haratina” yang dianggap menghina Tuhan, Islam dan Nabi Muhammad. Dahsyatnya lagi reaksi umat Islam novelnya Salman Rusdi, Satanic Verses (Ayat – ayat setan) yang menghalalkan darah penulisnya. Sejatinya, kontroversi ini tidak perlu terjadi jika pendekatan yang digunakan adalah disiplin kesusastraan.
<p
Continue reading »

MASALAH PERENCANAAN PENELITIAN

REVIEW ARTIKEL DAN BUKU:

Oleh: Istadiyantha

KOENTJARANINGRAT, 1994, METODE-METODE PENELITIAN MASYARAKAT, JAKARTA: GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA.

JUDUL ARTIKEL: MELY G. TAN “MASALAH PERENCANAAN PENELITIAN”

Artikel ini amat bermanfaat dibaca oleh para peneliti pada umumnya, dan khususnya para peneliti pemula. Mely G. Tan memberikan arahan tentang Prencanaan Penelitian sebagai berikut:

1. Pemikiran Persoalan

Persoalan yang dipilih harus memenuhi syarat tertentu: 1) penelitian itu dapat dikerjakan, artinya peneliti dengan segala kemampuan yang ada dapat menjangkau pengumpulan data penelitian dan analisisnya; 2) amat bermanfaat, terutama di masa sekarang, karena ada penelitian yang amat rumit pengerjaannya, namun tingkat kemanfaatannya amat rendah, misal “Kenapa pria masa kini banyak yang memelihara kumis dan janggut?”, tapi apakah penelitian ini amat urgen untuk dilakukan? Mungkin penelitian ini amat terbatas manfaatnya, misal hanya bagi perusahaan kosmetik; 3) perlu dipilih jenis penelitian dasar atau terapan.

2. Penentuan Ruang Lingkup Penelitian

Pada dasarnya, batas ruang lingkup ini dapat ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan: 1) maksud dan perhatian si peneliti; 2) bahan yang ada mengenai masalah bersangkutan; 3) rumitnya anggapan-anggapan dasar atau asumsi-asumsi yang sudah dirumuskan; 4) penelitian lapangan yang sudah dilakukan, demikian pendapat Young dikutip oleh Mely.

3. Pemeriksaan Tulisan-tulisan yang Bersangkutan

Fungsi pemeriksaan tulisan yang relevan bermanfaat untuk: 1) memperdalam pengetahuan yang diteliti; 2) menegaskan kerangka teoretis yang dijadikan landasan jalan pikiran kita; 3) mempertajam konsep-konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesis-hipotesis; 4) menghindarkan pengulangan dalam penelitian.

4. Perumusan Kerangka Teoretis

Kerangka teoretis membantu si peneliti dalam penentuan tujuan dan arah penelitiannya, serta memilih konsep-konsep yang tepat guna pembentukan hipotesis-hipotesisnya. Perlu diketahui bashwa teori bukanlah pengetahuan yang sifatnya pasti, tetapi harus dianggap sebagai petunjuk hipotesis. Seperti dikatakan oleh Herbert Blumer, seorang ahli sosiologi Amerika yang terkemuka: “Teori, penelitian, dan fakta empiris terlibat dalam suatu hubungan yang erat, yang teori itu membina penelitian, penelitian mencari dan memindahkan fakta-fakta, dan fakta-fakta mempengaruhi teori. Berhasilnya perhubungan tersebut adalah caranya bagaimana penelitian empiris berkembang.

5. Penentuan Konsep-konsep

Konsep atau pengertian merupakan unsur pokok dari suatu penelitian.. Konsep adalah definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala itu. Menurut R. Merton “Konsep adalah definisi tentang apa yang perlu diamati, sedangkan konsep juga berfungsi untuk menentukan antara variabel-variabel yang secara empiris dicari hubungannya”.

Konsep ada yang sederhana dan ada yang rumit. Konsep yang sederhana adalah konsep yang sudah dikenal secara umum, misal meja, kursi, lembu, kambing, dsb. Tinggal menunjukkan deskripsi bentuk bendanya. Di samping itu ada pula konsep yang tidak sederhana atau rumit, karena tidak dapat dilihat atau abstrak. Misal konsep tentang kedudukan, peranan, stratifikasi sosial, mobilitas sosial, kesadaran politik, dsb. Konsep yang demikian ini hanya dapat diperoleh secara tidak langsung, dengan pengamatan dari gejala-gejala yang dapat dilihat berhubungan dengan konsep-konsep itu. Konsep yang demikian ini disebut dengan construct, di dalam bidang ilmu sosial konsep merupakan unsur utama dalam penelitian. Di sini kita harus cermat memilih konsep-konsep dengan segala peristilahannya, karena istilah dalam bahasa sehari-hari amat berlainan dengan konsep dalam ilmu pengetahuan.

Konsep merupakan unsur pokok dalam suatu penelitian, penentuan dan perincian konsep sangat penting, supaya perumusan persoalannya tidak menjadi kabur. Penegasan dari konsep terpilih perlu untuk menghindarkan salah pengertian tentang arti konsep yang digunakan. Konsep biasanya masih bergerak di alam abstrak, maka perlu diterjemahkannya dalam bentuk kata-kata yang tepat supaya dapat diukur secara empiris.


6. Perumusan Hipotesis-hipotesis

Hipotesis dalam suatu penelitian berperan untuk: 1) memberikan tujuan yang tegas bagi suatu penelitian; 2) membantu dalam penentuan arah dalam pembatasan ruang lingkup penelitian dengan memilih fakta-fakta yang menarik dan relevan; 3) menghindarkan pengumpulan data yang tak bermanfaat dan penelitian yang tidak terarah. Ciri utama dari suatu hipotesis: 1) kesederhanaan dalam perumusan; 2) penggunaan variabel-variabel yang tegas; 3) berbentuk sedemikian rupa sehingga kebenarannya dapat diuji oleh peneliti lain. Dan suatu hipotesis dapat diperoleh dari tiga sumber, yaitu: 1) pengalaman, pengamatan, dan dugaan si peneliti sendiri; 2) hasil penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya; 3) teori-teori yang sudah berbentuk.

Hipotesis bagian pertama merupakan hipotesis yang bersifat sementara dan amat lemah, dan hipotesis kedua mempunyai sifat yang lebih kuat, dan biasanya bertujuan menguji kebenaran hipotesis yang sudah diuji oleh peneliti sebelumnya. Hipotesis berdasarkan sumber ketiga, merupakan hipotesis yang terkuat, artinya hipotesis ini sudah meninggalkan penelitian yang bersifat eksplorasi dan deskripsi, dan menuju kepenelitian yang bersifat menerangkan, yang akhirnya menuju ke suatu kaidah sosial. Hipotesis pada suatu proses penelitian bersifat sementara, yang berarti bahwa suatu hipotesis dapat diubah atau diganti oleh hipotesis lain yang lebih tepat.


7. Pemilihan Metode Penelitian

Metode penelitian amat bergantung pada maksud dan tujuan penelitian. Sehubungan dengan hal ini kita harus mengenal 3 jenis penelitian: 1) penelitian yang bersifat menjelajah, bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai suatu gejala tertentu, atau mendapatkan ide-ide baru mengenai gejala itu, dengan maksud untuk merumuskan masalahnya secara lebih terperinci atau untuk mengembangkan hipotesis. Dalam hal ini masalahnya masih terbuka dan belum ada hipotesis; 2) penelitian yang bersifat deskriptif, bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala atau frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dan gejala lain dalam masyarakat. Dalam hal ini bisa terjadi sudah atau belum ada hipotesis, tergantung dari sedikit banyaknya pengetahuan tentang masalah yang bersangkutan; 3) penelitian yang bersifat menerangkan, bertujuan menguji hipotesis-hipotesis tentang hubungan adanya sebab-akibat, antara berbagai variabel yang diteliti, yang berarti sebelumnya sudah ada hipotesis.

8. Perencanaan Sampling

Dalam penelitian lapangan apa saja pun seorang peneliti tidak dapat mengobservasi semua subjek yang diteliti, oleh sebab itu diperlukan sample, yaitu yang menjadi objek dari suatu penelitian, sedangkan metodologi untuk menyeleksi individu-individu masuk ke dalam sample yang representatif disebut dengan sampling.

Metodologi sampling yang representatif adalah persoalan sampai di manakah ciri-ciri yang terdapat pada sample yang terbatas itu benar-benar dapat menggambarkan keadaan sebenarnya dari keseluruhan populasi.

Metode sampling ada yang probabilitas dan tidak probabilitas. Sampling yang probabilitas misalnya: random sampling sederhana, sampling berstratifikasi, sampling sistematis, sampling berkelompok, dan ada pula yang merupakan campuran dari metode di atas. Adapun sampling yang tidak probabilitas, melainkan dipilih atas tujuan tertentu, untuk mendeskripsi suatu gejala sosial atau masalah sosial tertentu. Metode-metode sampling itu yang disebut dengan “sampling bertujuan” atau purposive sampling, misal sampling aksidental, sampling quota, dsb..

Artkel ini amat bermanfaat untuk dipahami oleh para peneliti pemula, karena banyak memberikan bimbingan ke arah persiapan perencanaan penelitian yang lebih cermat dan yerfokus pada pokok persoalan penelitian.

REVIEW ARTIKEL YANG LAIN DAPAT DILIHAT DI BLOG INI PADA WAKTU KULIAH, ANDA AKAN SAYA BERITAHU PASSWORD-NYA

DAN APABILA ANDA INGIN LIHAT PROFIL KOENTJARANINGRAT,

SILAKAN CLICK DI SINI; http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/k/koentjaraningrat/index.shtml

= KOENTJARANINGRAT “BEBERAPA DASAR METODE STATISTIK DAN SAMPLING DALAM PENELITIAN MASYARAKAT”

= HARSJA W.BACHTIAR, “PENGAMATAN SEBAGAI SUATU METODE PENELITIAN”

= KOENTJARANINGRAT, “METODE WAWANCARA”,

= SARTONO KARTODIRDJO,“METODE PENGGUNAAN BAHAN DOKUMEN”

= KOENTJARANINGRAT,“METODE PENGGUNAAN DATA PENGALAMAN IND

BUKU-BUKU:

= SPRADLEY, JAMES P. 2007. METODE ETNOGRAFI, YOGYAKARTA: TIARA WACANA.

= VREDENBERGT, J. 1978, METODE DAN TEKNIK PENELITIAN MASYARAKAT, JAKARTA: GRAMEDIA

ANDA INGIN INFO DARI BLOG SAYA YANG LAIN ?

Silakan CLICK: http://istayn.wordpress.com

Continue reading »

KULIAH SASTRA MISTIK

KULIAH SASTRA MISTIK

Presentasi makalah oleh mahasiswa dilakukan sejak 27 Oktober 2008, dan di bulan November 2008 ini dilanjutkan presentasi tiap hari Selasa pukul 12.30 (sementara di ruang Seminar Gedung III).

Mhs. semester III Jurusan Sastra Indonesia FSSR UNS ada tugas membuat artikel ditulis secara berkelompok dan perorangan, artikel kelompok dikumpulkan dan dipresentasikan di depan kelas Jurusan Sastra Indonesia dan Sastra Daerah mulai pertengahan Oktober 2008 . Dan di akhir semester nanti setiap mahasiswa juga membuat artikel perorangan tentang sastra mistik atau sastra sufistik. Artikel kelompok dibuat maksimal 5 halaman 1 1/2 spasi font 12 Times New Roman ukuran folio, artikel perorangan dibuat sesuai aturan tata tulis artikel kelompok, namun jumlah halaman 5-10 halaman. Artikel perorangan boleh membahas puisi, novel, cerpen atau karya sastra yang berisi masalah mistik dan sufistik. Seperti Sastra Sufi karya Abdul Hadi WM, Adam Makrifat karya Danarto, Serat Darma Gandhul, Serat Gatholoco, dsb. Tgl 16 Okt. tugas dikumpulkan, dan presentasi di depan kelas dilakukan sejak 23 Okt.2008

P.Ist di taman Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), 2006
Ilustrasi: P.Ist di taman Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), 2006

CLICK DI BAWAH INI UNTUK MELIHAT CONTENT YG LAIN…

Continue reading »
1 2